MINANGKABAU


Berbicara tentang kampung halaman kita, Sumatera Barat, kita akan teringat mengenai mungkin makanannya yang khas, budaya merantau, alamnya yang indah, dan tentu saja keluarga kita di rumah. Alhamdulillah, berbicara tentang Sumatera Barat, orang tidak akan langsung teringat akan kemiskinan, ataupun anak yang tidak bisa sekolah, maupun pengangguran yang sudah lama mencari kerja, tidak seperti ketika kita berbicara tentang papua misalnya, yang tentu kita akan teringat tentang ketertinggalan disana. Akan tetapi, jika kita mau sedikit berjalan di kampung kita, berjalan menyusuri jorong-jorong, tidak susah mencari orang yang hidup dibawah garis kemiskinan, masih banyak anak yang tidak bisa sekolah, dan juga pengangguran. Jika kita belum punya waktu mungkin untuk sedikit menelusuri kampung halaman kitauntuk melihat langsung, kita juga bisa melihat data yang dirilis oleh BPS, ternyata masih ada lebih dari 370.000 penduduk miskin di Sumatera Barat. Merantau, sangat erat dengan orang Minang. Dahulu merantau begitu digadangkan karena proses merantau yang tidak mudah, juga pemaknaan dari merantau itu sendiri, hingga ada yang malu untuk pulang sebelum sukses, menunjukkan bahwa begitu besar harapan masyarakat terhadap orang yang pergi merantau. Lalu bagaimanakah posisi kita saat ini sebagai perantau ?  Kita tidak usah memposisikan diri dalam kesulitan yang dialami para perantau dahulu, tapi bagaimana kita memposisikan diri agar sesuai dengan semangat merantau itu sendiri. Merantau tidak hanya mencari tempat hidup yang baru, merantau adalah untuk kembali membangun kampung halaman. Tentu ada harapan besar ketika melihat seorang yang menuntut ilmu hingga ke tanah jawa, setidaknya itu yang saya rasakan dahulu ketika melihat perantau dari jawa yang pulang. Dahulu saya membayangkan begitu hebat pasti yang dilakukan perantau di jawa, begitu jauh, melintasi lautan, kehidupan kota besar, juga harapan masa depan yang lebih baik. Begitu juga ketika bertemu saudara yang kuliah di ITB ketika pulang kampung, ah bagaimanakah ITB itu ? Tentu sangat hebat. Dan Sekarang kita di posisi itu teman ! Perantau di tanah jawa, mahasiswa perguruan tinggi terbaik bangsa ini. Coba sejenak kita posisikan diri kita sebagai seorang di kampung, kita melihat mahasiswa ITB, coba kita renungkan apa ekspektasi kita kepada mahasiswa ITB ketika kita adalah amai-amai yang hidup di pelosok jorong, dengan kehidupan yang serba kekurangan. Merantau memiliki semangat yang sama dengan kisah hijrah Nabi Muhammad SAW. Bagaimana Nabi Muhammad setelah berhasil membangun kota madinah dalam waktu yang tidak sedikit, kembali lagi ke mekkah. Kemudian menjalankan syariat, aturan yang sempurna, untuk kemajuan kota mekkah. Begitulah periode yang mungkin bisa kita terapkan, kita membangun kesuksesan di negeri rantau, menuntut ilmu, membangun karir, bekerja, berusaha, dan kemudian kita akan kembali ke kampung halaman. Kenapa ? Karena kita tidak bisa membohongi hati nurani kita, sejauh apapun kita telah pergi, kita akan selalu teringat dengan kampung halaman. Ketika saya pertama kali datang ke kampus ganesha, kemudian berjalan melewati kolam Indonesia, begitu saja saya mencari bagian barat dari pulau sumatera. Kita sudah memulai kawan, namun kita mesti terus menyempurnakan pengabdian kita pada ranah minang. Kita bisa memulai dari saat ini, banyak jalan untuk melakukan pengabdian masyarakat, melakukan pemberdayaan. Namun, tiap-tiap dari kita mesti memasukkan ke dalam rencana hidup kita untuk membangun kampung halaman.   Diri mempunyai dua pertanggungjawaban, pertama kepada dirinya sendiri, berusaha menjaga kesehatannya, hidupnya dan kesempurnaannya. Kedua kewajiban terhadap masyarakat, bekerja untuk kemanfaatan dan kesempurnaan masyarakat,  hingga kebahagian masyarakat adalah kebahagian dirinya dan kebahagian dirinya adalah kebahagian masyarakat. – Buya Hamka- dalam Lembaga Hidup (1956) Oleh Muhammad Khairul Hamid Koto (UKM’11)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *