Kunjungan Hublu ke Kediaman Bapak Emral Djamal  


Emral Djamal Datuak Rajo Mudo Selasa, 7 Juli 2014 Waktu: 21.30-00.30 WIB Riki Tri Prasetyo, Hauzan Fadlurrahman, Hilmy Hanif, Dennis Adiprawira, Fikri Hardian, Iqbal TJ  kunjungan1 Profil Singkat Bapak Emral Djamal Datuak Rajo Mudo (bersumber dari Wikipedia)             Emral Djamal Datuk Rajo Mudo (lahir di Nagari BayangKabupaten Pesisir SelatanSumatera Barat22 Maret 1944; umur 70 tahun) adalah seorang budayawan, penggali dan penggerak silat tradisional Minangkabau, sekaligus penghulu dari Suku Tanjung di Nagari Bayang. Ia sering menjadi narasumber dan pemakalah pada berbagai forum diskusi tentang budaya alam Minangkabau, baik di dalam atau di luar daerah Sumatera Barat. Tulisan-tulisannya banyak dimuat dalam beberapa harian yang terbit di Padang. Ia banyak menulis tentang silek, adat, dan sejarah Minangkabau yang digali dari warisan tradisi di Minangkabau yang berupa pidato-pidato adat, gelar-gelar adat, pitutur, wawancara dengan para pemuka adat dan tuo silek, pepatah petitih, dan naskah-naskah kuno. Ia menjadi salah seorang penggerak kegiatan Galanggang Siliah Baganti (GSB), suatu acara festival silat tradisional Minangkabau sebagai bentuk nyata dari upaya mempertahankan tradisi silek di Minangkabau dari kepunahan.             Budaya yang harus diketahui oleh orang Minang, terutama pemuda saat ini.        Bapak Emral Djamal mengatakan bahwa budaya minang merupakan demokrasi tertua di dunia. Demokrasi tertua itu merupakan demokrasi parpatiah nan sabatang. Banyak urang minang saat ini yang tidak tahu dengan sejarah minangkabau. Demokrasi minang merupakan demokrasi timur dan jelas-jelas berbeda dengan demokrasi barat. Misalnya saja, orang telanjang dalam demokrasi barat sangat dilindungi karena jika ada yang menolak maka akan dikatakan melanggar HAM. Begitu pun contohnya pada penyebaran tato. Jika ditelisik lebih jauh, tato awal mulanya muncul karena masyarakat dahulu tidak beragama. Dan jika dipikir dengan rasional, saat ini kita telah mengalami kemunduran karena kita kembali pada tradisi lama. Lebih tegasnya lagi, Angku Emral Djamal mengatakan bahwa saat ini banyak manusia purba berbentuk modern. Hal ini bisa dilihat dari pakaian dan kebanyakan orang saat ini ndak babudi. Terkhusus budaya minangkabau, telah terjadi perbedaan cerita karena cerita-cerita minangkabau yang kita ketahui saat inidisusun oleh pemerintah berdasarkan data dari penjajah yang didapat dalam bentuk literatur-literatur berbahasa Belanda, sedangkan seharusnya untuk mengetahui sejarah minangkabau yang sebenarnya, pemerintah harus masuk ke dalam kampung-kampung. Minangkabau bisa dikatakan sebagai sebuah negara ketika Negara Kesatuan Republik Indonesia belum terbentuk. Hal-hal yang menandakan minangkabau sebagai sebuah negara adalah adanya aset, materi, metode dan hukum minangkabau. Namun, seiring terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, mereduplah pesona minangkabau ini. Jika ingin mengetahui budaya minangkabau, jangan tidak tau dengan silek karena di dalam silek terkandung silaturahim dan wasilah. Wasilah inilah yang menjadi dasar pemikiran orang minangkabau atau bisa juga disebut sebagai 'The Way Of Urang Minangkabau'. Pun anak muda saat ini kurang memahami kato kieh, sindiran dan taratik. Padahal, dalam budaya minang mengandung banyak pemikiran-pemikiran yang bisa digunakan sebagai pedoman hidup. Carano, misalnya. Carano merupakan simbol Minangkabau yang digunakan dalam pinangan maupun pambuka rundiang. Carano memiliki simbol lahia  dan simbol batin. Sebelum dilakukan perundingan, maka ada penyerahan carano terlebih dahulu. Simbol lahia ditandai dengan adanya sirih dan simbol batin dimaknai sebagai sesuatu yang didapat setelah dilaksanakan perundingan tersebut. Generasi muda saat ini sangat sombong. Film Merantau tidak sesuai dengan budaya Minangkabau. Mengapa demikian? Karena seorang pesilat tidak pernah membanggakan ilmu yang dia miliki. Dulu, seseorang baru diketahui jati dirinya sebagai seorang pesilat setelah dia menolong orang lain, bukan dijadikan sebagai pamer kehebatan. Silek minang untuk kualitas diri, bukan untuk jago-jagoan. Silek wajib dipelajari dan setelah itu barulah muncul silek aka (intelektualitas). Urang minang seharusnya mampu mangaji diri awak sampai kasudahan diri awak. Ada pepatah yang menyebut ada dua jenis orang minang, ka warung jadi pandeka, ka musajik jadi imam. Begitulah bagaimana orang minang bisa begitu bijak dengan mampu mengenal dirinya sendiri. Pandangan Beliau tentang Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Budaya ini merupakan akal pikiran minangkabau. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah merupakan alam pikiran minang dan dijadika sebagai metode pikiran minangkabau. Hal inilah yang menjadi nilai lebih bagi orang minangkabau. Budaya minang bermula dari Gunung Merapi yang merupakan simbol bahwa dalam minang, akal pikiran sangatlah penting. Posisi dan Filosofi Seni Tari dan Randai dalam Minangkabau. Saat ini seni minang yang populer telah terjadi pergeseran. Dulu, orang-orang mau menonton randai hingga larut malam sedangkan saat ini kebanyakan tidak betah karena tidak bisa mempertahankan nilai-nilai kesakralan dari minangkabau.  Kusmiati Suji, salah satu yang mengerti akar dari seni minang. Ide dasar dari minangkabau diejawantahkan dalam randai. Saat ini, banyak yang membuat randai seenaknya saja, padahal randai merupakan media penyampaian informasi (randai tiro) dari sastra minangkabau yang harus diperkenalkan, harus babaliak kaba karena di dalamnya ada cerita-cerita dan sejarah minangkabau. Randai memiliki fungsi sebagai pusako nagari dan media pendidikan nagari. Oleh karena itu, anak rantau harus membaca kaba. Ada banyak macam kaba. Kaba carito dan kaba induk yang populer di tanah Malaysia namun di sini (Sumatera Barat) justru tidak populer. Namun, bisa dimaklumi saat ini dengan adanya klasifikasi randai modern dan randai tradisional. Seandainya dalam skala pertunjukan kecil, tidak masalah jika randai dibuat dengan kreasi sendiri, itulah yang dinamakan dengan randai modern. Untuk seni pertunjukan harus ada esensi dan jangan garapan modern. Pada pertunjukan lebih baik menggunakan cerita yang murni pusako orang Minang. Pernah diadakan sebuah pertunjukan seni yang disuguhkan kepada menteri-menteri negara nonblok. Pertunjukan seni itu membawa Opera Randai Cindua Mato yang disutradarai oleh Elly Kasim dengan membutuhkan tenaga lebih dari 100 orang. Opera ini benar-benar diangkat dari pusako orang minang. Berbeda dengan Pekan Budaya Sumatera Barat saat ini yang mengangkat generasi baru tanpa wawasan minang sehingga terlihat sangat mengada-ada. Begitu pun dengan tari. Kegiatan seni ini harus dicari materi yang punya akar jelas, misalnya tari kain atau pun tari indang. Ada salah seorang seniman, Gusmiati Suud yang memvisualisasikan sebuah nilai-nilai yang terkandung dalam puisi menjadi sebuah tari. Puisi dipakai sebagai penggarapan dari sebuah tari. Maka, dalam membawa sebuah pertunjukan seni, kita harus membuat sesuatu yang benar-benar ada item yang menarik bagi penonton sekaran ini. Saat ini, justru banyak yang memplot sebuah tari dengan tari tradisi tertentu padahal tidak sesuai antara tari dan gerakan. Pesan-pesan Seharusnya budaya minang dijadikan filosofi. Jika ingin mempelajari budaya minang, ada baiknya dibentuk sebuah komunitas sehingga bisa saling berdiskusi, berpraktik budaya minang dengan sebelumnya harus telah mempelajari budaya minang.  Jadi sebagai orang di kampung, orang budaya minangkabau. Saya juga berpesan kepada anak kemenakan yang ada di rantau terutama kepada mahasiswa yang ada di perguruan tinggi. Supaya disamping belajar dengan keilmuan yang dia minati juga perhatikanlah budaya minang sebagai tanah leluhur kita karena bagaimanapun minangkabau itu banyak wacana yang harus diangkat tentang nilai-nilai kearifan lokal yang tidak mungkin dikerjakan oleh satu orang. Anda lah generasi sekarang yang harus mewarisinya dan untuk kembali mengembangkan dan membangkitkan semangat keminangkabauan itu dalam arti nilai-nilai kependekarannya. Kita tidak akan mengangkat minangkabau sebagai sebuah kerajaan lama. Tidaak. Karena kita telah berpayung di dalam naungan NKRI, tetapi budayanya wajib anak minangkabau itu memahami dan mendalaminya karena itu berkepentingan dengan masalah jati diri minangkabau itu sendiri secara khusus dan kepribadian bangsa Indonesia secara umumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *