Bangga Menjadi Urang Awak


Minangkabau sebagai salah satu entitas kebudayaan di Indonesia memiliki keunikan-keunikan tersendiri. Bangga dengan keunikan yang dimiliki oleh Minangkabau bukan lantas menganggap hal ini sebagai bentuk chauvinism kebudayaan, yang diartikan sebagai rasa cinta berlebihan terhadap budaya sendiri sehingga menganggap budaya lain rendah. Kita pun bangga Indonesia yang bersemboyankan Bhineka Tunggal Ika mengambil identitas nasionalnya dari kebudayaan yang berasal dari Sabang hingga Merauke. Salah satu keunikan masyarakat Minangkabau adalah matrilineal yang melekat hingga saat ini. Matrilineal disini dimaksudkan bahwa suku (klan ) seorang anak didapatkan dari ibunya. Sistem matrilineal yang dipakai oleh orang Minang hidup berdampingan dengan agama Islam yang umumnya memakai system patrilineal. Walaupun banyak orang beranggapan bahwa orang Minang mengambil nasab dari garis ibu, tentu dapat diluruskan bahwa nasab dan suku tidak parallel dalam garis matrilineal. Nasab orang Minangkabau tetap kepada ayah. Implikasi dari system matrilineal yang digunakan tadi mengakibatkan harta di Minangkabau dibagi atas dua bagian. Yang pertama adalah harta pusaka tinggi yang diturunkan kepada saudara dari pihak garis perempuan, harta ini dapat berupa kolam, rumah gadang, tanah, sawah, hutan, dan gelar pusako,. Benda yang bersifat materi (selain gelar pusako), diberi wewenang kepada perempuan dalam suatu suku untuk mengelolanya. Lagi-lagi hal ini menimbulkan bias bagi para pengkritik adat Minangkabau, bahwa hal ini menyalahi aturan Islam yang dikenal melekat dalam kehidupan masyarakat Minang sehari-hari, Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Penolakan ini salah satunya diperlihatkan oleh Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, seorang Imam Besar Masjidil Haram, yang konon enggan menjejakkan kakinya ke Ranah Minang karena menganggap harta pusaka tinggi sebagai harta syubhat dan haram untuk menggunakannya. Tetapi murid dari beliau sendiri seperti Dr. Abdul Karim Amrullah (Ayah Buya Hamka) menyatakan bahwa harta pusaka tinggi halal untuk digunakan karena termasuk harta komunal. Harta ini tidak diwariskan kepada perempuan, tetapi perempuan hanya memilik peran pengelola dan hak pakai. Harta kedua adalah harta pusaka rendah yang didapat dari pencarian orangtua, dan harta ini diwariskan menurut hukum waris Islam. Budaya merantau juga menjadi ciri khas sendiri orang Minang. Budaya Minang sendiri menegaskan bahwa seorang anak laki-laki harus pergi merantau untuk menimba ilmu dan mencari pengalaman hidup. Karatau madang dihulu Babuah babungo balun Marantau bujang dahulu Dirumah paguno balun Budaya merantau ini telah terbukti menghasilkan tokoh-tokoh ternama di Indonesia bahkan dunia. Siapa yang tidak mengenal M. Yamin, Bung Hatta, Natsir, Tan Malaka, H. Agus Salim, Buya Hamka, Syahrir, Rasuna Said, serta sederet lainnya. Orang Minangkabau tidak hanya merantau ke seantero Indonesia, tapi juga hingga daerah yang saat ini masuk kedalam Negara Malaysia. Budaya merantau telah membentuk tabiat orang Minang agar berperilaku sesuai dengan keadaan wilayah yang ditempati, seperti kata pepatah Dima bumi dipijak, disinan langik dijunjuang Orang Minang juga terkenal dengan “cita rasa” sastra nya yang tinggi, budaya Minang telah membentuk hal itu menjadi sebuah identitas dari kebudayan sendiri. Sehingga dari ini lahirlah tokoh-tokoh sastra awal Indonesia yang berpengaruh terhadap sastra Indonesia. Selain itu, masakan Minang juga terkenal sebagai salah satu masakan yang lezat di Indonesia. Hingga hari ini disetiap daerah Indonesia dengan mudah dapat kita temui Warung Makan Padang, yang notabene Padang disini maksudnya Minang. Hal diatas adalah sedikit dari berbagai keragaman budaya yang dimilki oleh Ranah Minangkabau. Tetapi kondisi saat ini adalah banyak anak Minang yang sudah tidak peduli dengan budayanya. Bahasa Minang sudah mulai ditinggalkan, apalagi adat dan budaya lainnya. Mereka menganggap bahwa budaya Minang kuno. Padahal perlu kita ketahui, untuk menjadi Indonesia seutuhnya kita tidak hanya harus bangga dengan ke-Bhinekaan Indonesia, tetapi lebih dari itu, kita harus sadar dan bangga dengan budaya asal kita. Karena budaya asal inilah pembentuk budaya nasional. Jadi, di era babaliak ka nagari ini, mari kita tumbuhkan serta tingkatkan rasa bangga kita kepada Ranah Bundo Kanduang, bukan bangga dalam konteks chauvinisme, tetapi bangga dalam rangka sebagai wujud kebanggaan kita kepada kebhinekaan Indonesia. (Rafki Ismed Ghifari, UKM '13)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *