GADIH MINANG, GELAS YANG MULAI RETAK


Peradaban dan kebudayaan memnbutuhkan orang sebagai penggerak dan pengontrol agar kebudayaan itu tetap lestari. Orang-orang yang dimaksud tidak mungkin turun dari langit begitu saja,setiap orang tentunya akan terlahir dari sosok seorang perempuan dan akhirnya bisa dikatakan seorang perempuan memiliki peran besar dalam kebudayaan dan peradaban. Begitu pula di minangkabau, kebudayaan alam minangkabau yang telah lama tercipta dan masih tetap ada hingga saat ini tidak luput dari peran gadih minangnya. Gadih minang pada dahulunya dikenal dengan keanggunannya dan kebaikan dalam setiap tingkah lakunya. Gadih minang sangat peka untuk menjaga dirinya, ketika mamaknya baru sampai di halaman rumah gadang, cukup dengan isyarat berupa suara batuk, gadih minang langsung mempersiapkan rumah dan dirinya untuk menemui mamaknya, misalnya segera memakai kerudung, mengenakan baju kurung, dan menyapu rumah secepatnya. Betapa mulianya derajat seorang perempuan yang sikapnya kepada orang kaumnya seakan-akan bersikap kepada yang bukan mahramnya. Ketika bersikap dengan orang yang bukan mahramnya, gadih minang lebih berhati-hati lagi. Mungkin sudah biasa kita lihat di masyarakat adanya budaya mencari kutu. Dahulu, apabila gadih minang saling mencari kutu dengan kawan gadihnya, mereka menyediakan sebuah karung untuk setiap orang, fungsinya adalah ketika ada anak bujang yang tidak sengaja lewat di sekitar rumah para gadih langsung menutup kepala mereka dengan karung tersebut. Apabila terjadi kontak langsung yang hanya berupa sedikit colekan dari lawan jenisnya, seorang gadih minang bisa marah atau menangis di tempat. Bayangkan, dengan orang sekampung yang hampir tiap hari bertatap muka gadih minang sangat menjaga dirinya dan benar-benar menjaga kehormatannya. Dalam pergaulan, akan ada saatnya seorang gadih memiliki teman bujang. Gadih minang telah diajarkan untuk tidak pergi berduaan dengan lawan jenis karena akan timbul fitnah dari masyarakat. Fitnah yang muncul akan menyulut kepada celaan dan sampai ada yang pengucilan apabila seorang gadih pergi berdua saja dengan yang bukan mahramnya. Dahulu, segenting apapun keadaannya seorang gadih akan membawa satu anak kecil jika memang ia hanya akan pergi berdua dengan lawan jenisnya sampai-sampai pergi ke rumah tetangga untuk “meminjam” anaknya. Yang ditekankan adalah menghindari fitnah saat diperjalanan. Sungguh merupakan budaya yang sangat bermoral yang telah diajarkan oleh masyarakat minangkabau. Aturan yang dibuat tidak hanya dibuat dengan akal dan perasaan tapi juga dengan pedoman Al-quran, sesuai dengan falsafahnya “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabulloh, syarak mangato adat mamakai”. Orang minang telah menyadari bahwa kebenaran hanya bisa dicapai jika mengikuti petunjuk yang benar, bukan hanya perasaan bahwa ini benar dan ini salah. Namun, dewasa ini figur gadih minang mulai hilang oleh budaya dan ajaran yang tidak berlandaskan syarak. Betapa banyak yang kita lihat sekarang seorang perempuan di minang tidak masalah memamerkan rambutnya kepada mamaknya, tidak merasa terhina dengan mudahnya lelaki menyentuhnya, dan merasa biasa untuk pergi berduaan dengan yang bukan mahramnya. Sungguh fenomena yang memilukan, kehormatan yang telah dijaga begitu lamanya jatuh begitu saja. Tidak heran sekarang banyak terjadi kejahatan berupa fisik maupun moral kepada perempuan karena yang memicu hal tersebut adalah dari perempuan itu sendiri. Sepert yang marak saat ini, begitu banyak status “tidak penting” di media sosial dari perempuan yang sejatinya hanya akan meruntuhkan harga dirinya. Kemunduran perempuan minang akan mengundang kemunduran budaya minangkabau yang telah lama dipakai di masyarakat sehingga akan ada masanya minangkabau hanya tinggal nama tanpa ada identitas. Perempuan seperti sebuah gelas, gelas itu terlihat kuat namun sebenarnya rapuh dan mudah retak, perlu penjagaan yang ketat agar tidak retak. Apabila gelas sudah retak, gelas tidak akan bisa dipakai lagi malah akan membahayakan bagi yang memakainya. Gelas yang telah dibentuk begitu lamanya sekarang mulai menampakkan retakannya.(Ihsanul Qolby MG'14 UKM'14)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *