Wanita Minangkabau, Budaya yang Terkikis


Meninggalnya Rohana Kuddus, Siti Nurbaya, Mambang Jawari, dan sederet tokoh wanita Minang lainnya, seakan menjadi titik nadir bagi peradaban dan budaya wanita Minangkabau yang juga ikut serta meninggalkan bumi Ranah Minang ini. Ya, memang ironis pernyataan ini. Tapi fakta membuktikan remaja Minang yang seharusnya berkiprah sebagai cendikia penerus Minangkabau, justru mulai beranjak meninggalkan ciri khasnya, yang sebenarnya merupakan jati diri sebagai orang Minang. Sangat sedikit yang masih menyadari bahwa sebentar lagi gadis Ranah Minang akan kehilangan jati dirinya Banyak sekali fenomena yang dapat kita lihat di sekeliling kita, yang menjadi bukti bahwa kebudayaan wanita Minang  kian terkikis dan berangsur pudar. Tak jauh dari kita, Padang juga bisa dijadikan ladang survey untuk membuktikannya. Duduklah sebentar di pinggiran pantai Padang sambil menikmati indahnya matahari terbenam ditemani dengan setongkol jagung bakar dan seruputan buah kelapa pelepas dahaga. Pemandangan yang mengiris hati dalam waktu sekejap akan Anda saksikan. Dimulai dengan segerombolan wanita-wanita yang duduk berkelompok bersama rekan mereka, sambil tertawa riang gembira. Tapi mereka tidak sadar, beberapa pasang mata tengah menggeriliya tubuh mereka, memperhatikan dengan seksama lekuk indah tubuh mereka. Bersyukurlah jika mata jahil tadi hanya numpang menikmati melihat tubuh wanita itu. Coba bayangkan jika mata itu berubah menjadi otak kotor yang ingin menodai wanita itu? Naudzubillahi min zalik. Tapi hal ini tidak akan terjadi jika seandainya para wanita itu tidak mengundang nafsu lelaki jika mereka mengenakan baju yang tidak memancing syahwat. Inilah perbedaan nyata yang terjadi antara wanita Minangkabau sekarang dengan wanita Minang dahulu, saat Adat Basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah masih dilaksanakan. Dahulu anak gadis Minang banyak yang memakai baju kurung sedangkan sekarang kita temui gadis Minang yang memakai baju kurang, bahkan minus. Kalau dahulu orang memandang bahwa anak gadis berpakaian sempit dan ketat dianggap “asing” sedangkan sekarang melihat anak gadis berpakaian longgarlah yang dianggap “asing” dan “kolot”. Fenomena ini sama persis seperti hadist Rasullullah yang diriwayatkan oleh Muslim “bada’al islamu ghariyan wasaya’udu kamaa bada’a ghariyan fathuubaa lilghuraba”. (Islam itu terasing dan akan terasing seperti pertama kali muncul). Akan tetapi beruntunglah orang yang dianggap asing atau aneh tersebut, karena dicintai oleh Sang Khaliknya. Seiring dengan berkembangnya dunia mode dan fashion seolah-olah anak gadis Minang sekarang tidak mau ketinggalan, baik itu model pakaian, sepatu, aksesoris, segi pergaulan, dan lain sebagainya. Bisa kita saksikan saja cara berpakaian wanita Minang sekarang yang sudah jauh dari ajaran agama maupun ajaran adat. Ketika malam sudah mulai merata, bulan mulai menampakkan keelokan sinarnya, dan semilir angin malam yang membuat sekujur badan dingin di tengah gelap malam, Berjalanlah menelusuri pantai dari ujung ke ujung. Maka barulah terlihat pemandangan yang membuat batin menangis melihat gadis Minang tidak menghargai lagi budaya dan agamanya. Berdua-duaan dengan yang bukan muhrimnya di belakang tenda yang sengaja dibuat orang rendah agar perbuatan maksiat lebih leluasa dilaksanakan. “Naudzubillahi min zalik”. Padahal, masa dahulu kalau anak gadis masih berada di luar rumah di saat Magrib, dianggap sebagai gadis yang tidak baik tingkah lakunya. Bahkan pada masa sekarang ini, ada orang tua justru memperbolehkan anaknya untuk pergi berkencan malam minggu bersama lelaki yang bukan muhrimnya, keluar berduaan. Benar-benar sudah hilang moral orang Minangkabau sekarang ini. Padahal, orang Minang dahulu mendidik anak-anak (terutama anak gadisnya) dalam konteks pergaulan hubungan pertemanan antara pria dan wanita sangat dijarakkan. Namun, kelihatannya amat sangat berbeda dengan masa lampau, anak-anak muda sekarang tidak tahu dengan malu ataukah malu itu sudah mulai hilang? Budaya Minangkabau dalam adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah menempatkan perempuan pada posisi peran yang sangat mulia. Kadangkala dijuluki dengan sebutan “urang rumah” (hiduik batampek,  mati bakubua, kuburan hiduik di rumah gadang,  kuburan mati  di tangah padang), “induak bareh” (nan lamah di tueh, nan condong di tungkek, ayam barinduak, siriah bajunjuang), pemimpin (tahu di mudharat jo manfaat, mangana labo jo rugi, mangatahui sumbang jo salah, tahu di unak kamanyangkuik, tahu di rantiang ka mancucuak, ingek di dahan ka mahimpok, tahu di angin nan basiruik, arih di ombak nan basabuang, tahu di alamat kato sampai). Anak Minangkabau memanggil ibunya dengan bundo karena perempuan Minangkabau umumnya menjaga martabat. Ada beberapa point penting yang dijunjung tinggi. Pertama, hati-hati (watak Islam khauf), ingek dan jago pado adat, ingek di adat nan ka rusak, jago limbago nan kasumbiang. Kedua, yakin kepada Allah (iman bertauhid), jantaruah bak katidiang,  jan baserak bak anjalai, kok  ado rundiang ba nan batin, patuik baduo jan batigo,  nak jan lahie di danga  urang. Ketiga, Perangai berpatutan (uswah istiqamah), maha tak dapek dibali, murah tak dapek dimintak, takuik di paham ka tagadai, takuik di budi ka tajua. Kelima, kaya hati (Ghinaun nafs), sopan santun hemat dan khidmat. Keenam, tabah (redha), haniang ulu bicaro, naniang saribu aka, dek saba bana mandating. Ketujuh, Jimek (hemat tidak mubazir), dikana labo jo rugi, dalam awal akia membayang, ingek di paham katagadai, ingek di budi katajua,  mamakai malu dengan sopan. Hal yang penting yang harus diingat adalah seperti pantun dibawah ini: Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek. Anak urang koto hilalang Handak lalu ka Pakan Baso,                           malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso. Jadi janganlah sampai rasa malu hilang dari diri wanita Minangkabau. Dan juga perlu disadari bahwa “bila wanitanya baik, baiklah negeri itu, dan kalau wanita sudah rusak, celakalah negeri itu (Al Hadits). (Terbit di Harian Singgalang edisi Mingu, November 2009. Artikel oleh: Williya Meta Disunting oleh: Novrisal Prasetya, TM '14 UKM '15)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *