Forum Gadih 1: Meneladani Sifat Mulia Siti Sarah dan Siti Hajar


Pada hari Jumat, 16 September 2016 telah dilaksanakan Forum Gadih di sekretariat UKM-ITB. Forum Gadih kali ini merupakan salah satu program kerja Suluah Bendang pada kepengurusan UKM-ITB 2016/2017. Pembicara yang mengisi forum hari itu adalah Hanifah yang merupakan perwakilan dari gamais. Jumat itu masih pada suasana Hari Tasyrik, sehingga pembicara pun menyampaikan materi yang berkaitan dengan Hari Raya Idul Adha. Pembicara mengangkat kisah Idul Adha ini dari sisi wanita yaitu istri-istri Nabi Ibrahim a. s., Siti Sarah dan Siti Hajar. Banyak sekali sifat mulia kedua istri nabi ini yang patut dicontoh terutama bagi para wanita. Pelajaran pertama, keikhlasan seorang Siti Sarah yang menghendaki Nabi Ibrahim a. s. untuk menikahi Siti Hajar supaya Sang Nabi dikaruniai seorang anak. Sebagai seorang wanita, pasti akan terasa berat merelakan suaminya menikah lagi. Namun, Siti Sarah mencontohkan hal yang sangat luar biasa. Jarang sekali bisa kita temui hal seperti ini di zaman sekarang. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Siti Hajar hamil dan melahirkan anak bernama Ismail. Sebagai seorang istri, hati siapa yang tak cemburu? Begitulah yang dialami Siti Sarah ketika melihat hadirnya Ismail di tengah keluarganya. Siti Hajar merasakan kecemburuan Siti Sarah. Bagaimanapun, ia tak ingin menyakiti Siti Sarah yang telah begitu baik padanya. Pelajaran kedua kita dapat dari sikap Siti Hajar, yang begitu menghargai perasaan Siti Sarah dan akhirnya mengambil keputusan untuk berhijrah bersama Nabi Ibrahim a. s. dan putranya. Namun seperti yang kita ketahui, Nabi Ibrahim a. s. atas perintah Allah swt. meninggalkan Siti Hajar dengan bayi Ismail di tengah perjalanan hijrah tersebut. Pelajaran berikutnya yang bisa kita petik dari kisah ini yaitu kegigihan serta optimisme Siti Hajar dalam berikhtiar. Ia tidak hanya berpangku tangan dalam menghadapi situasi sulit. Ketika perbekalannya sudah habis dan anak tercintanya kehausan, ia berusaha mencari air dengan bolak-balik mendaki Bukit Shafa dan Marwah. Terus-menerus seperti itu sebanyak tujuh kali, sampai datanglah pertolongan Allah swt. yaitu ketika tiba-tiba air keluar dari bawah kaki Ismail kecil yang menangis karena kehausan. Ini usaha yang sungguh luar biasa. Keyakinan bahwa Allah swt. sangat menyayanginya telah membuat Siti Hajar bertahan. Beliau telah berusaha, dan Allah swt. memberikan apa yang dibutuhkannya di tempat yang tak pernah diduga. Peristiwa ini pun diabadikan Allah swt. sebagai salah satu rukun haji dan umrah. Tujuannya adalah agar kita yakin bahwa Allah swt. tak akan menyia-nyiakan kita jika kita senantiasa patuh dan berusaha semaksimal mungkin dalam kehidupan ini. Sifat mulia lainnya yang dimiliki Siti Hajar adalah ketahanannya dalam menghadapi godaan iblis. Perintah dari Allah swt. kepada Nabi Ibrahim a. s. untuk menyembelih putranya sendiri, Ismail, sangatlah berat. Ditambah dengan bisikan iblis untuk melanggar perintah itu, sungguh cobaan yang begitu sulit untuk dihadapi. Namun sang bunda Siti Hajar tetap berusaha untuk mengeyahkan bujuk rayu iblis yang menyesatkan itu. Ia mengerahkan segala kekuatan dan melemparkan batu untuk mengusir godaan setan itu. Peristiwa ini juga diabadikan dalam ibadah haji yaitu Jumroh Wusthaya. Pelajaran lainnya yang bisa dipetik dan dapat kita terapkan di kehidupan sehari-hari yaitu komunikasi yang baik antara Nabi Ibrahim a. s. dengan istri-istrinya. Setiap keputusan yang diambil oleh Sang Nabi maupun oleh Siti Sarah dan Siti Hajar, selalu dikomunikasikan dahulu dengan baik. Satu kebiasaan khas yang dilakukan yaitu mengembalikan semua keputusan kepada Allah. “Apakah ini datang dari Allah?” “Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian?” selalu diucapkan oleh Nabi Ibrahim a. s. maupun oleh istri-istrinya, setiap akan mengambil suatu keputusan.(Nurlaili Rizki H, UKM’14 II’14)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *