Sistem Kekerabatan Minangkabau dan Peran Bujang-Gadih Minang


Kekerabatan adalah hubungan seseorang atau entitas yang sama secara silsilah, keturunanan, maupun adat yang sama. Sistem kekerabatan dalam masyarakat Minangkabau adalah matrilineal (garis keturunan ibu). Adapun karakteristik dari sistem kekerabatan matrilineal sebagai berikut:
  • Keturunan dihitung menurut garis ibu.
  • Suku terbentuk menurut garis ibu. Seorang laki-laki di minangkabau tidak bisa mewariskan sukunya kepada anaknya.Jadi jika tidak ada anak perempuan dalam satu suku maka dapat dikatakan bahwa suku itu telah punah.
  • Tiap orang diharuskan kawin dengan orang luar sukunya (exogami) Menurut aturan adat minangkabau seseorang tidak dapat menikah dengan seseorang yang berasal dari suku yang sama . Apabila hal itu terjadi maka ia dapat dikenakan hukum adat, seperti dikucilkan dalam pergaulan.
  • Yang sebenarnya berkuasa adalah saudara laki-laki Yang menjalankan kekuasaan di minangkabau adalah laki-laki, perempuan di minangkabau di posisikan sebagai pengikat, pemelihara, dan penyimpan harta pusaka.
  • Perkawinan bersifat matrilokal, yaitu suami mengunjungi rumah istrinya
  • Hak-hak dan pusaka diwariskan oleh mamak kepada kemenakannya dan dari saudara laki-laki ibu kepada anak dari saudara perempuan.
Peran GADIH Minang : Pada dasarnya sistem matrilineal bukanlah untuk mengangkat atau memperkuat peranan perempuan, tetapi sistem itu dikukuhkan untuk menjaga, melindungi harta pusaka suatu kaum dari kepunahan, baik rumah gadang, tanah pusaka dan sawah ladang. Dalam sistem matrilineal perempuan diposisikan sebagai pengikat, pemelihara dan penyimpan, sebagaimana diungkapkan pepatah adatnya amban puruak atau tempat penyimpanan. Itulah sebabnya dalam penentuan peraturan dan perundang-undangan adat, perempuan tidak diikut sertakan. Perempuan menerima bersih tentang hak dan kewajiban di dalam adat yang telah diputuskan sebelumnya oleh pihak ninik mamak. Perempuan menerima hak dan kewajibannya tanpa harus melalui sebuah prosedur apalagi bantahan. Hal ini disebabkan hak dan kewajiban perempuan itu begitu dapat menjamin keselamatan hidup mereka dalam kondisi bagaimanapun juga. Semua harta pusaka menjadi milik perempuan, sedangkan laki-laki diberi hak untuk mengatur dan mempertahankannya. Perempuan tidak perlu berperan aktif seperti ninik mamak. Perempuan minangkabau yang memahami konstelasi seperti ini tidak memerlukan lagi atau menuntut lagi suatu prosedur lain atas hak-haknya. Mereka tidak memerlukan emansipasi lagi, mereka tidak perlu dengan perjuangan gender, karena sistem matrilineal telah menyediakan apa yang sesungguhnya diperlukan perempuan. Peran BUJANG Minang Kemenakan Sebagai kemenakan, bujang Minang harus mematuhi segala aturan yang ada di dalam kaum. Belajar untuk mengetahui semua aset kaumnya dan semua anggota keluarga kaumnya. Oleh karena itu, ketika seseorang berstatus menjadi kemenakan, dia selalu disuruh ke sana ke mari untuk mengetahui segala hal tentang adat dan perkaumannya. Mamak Bujang Minang yang berkedudukan sebagai mamak bertanggung jawab kepada kemenakannya. Dia bekerja di sawah kaumnya untuk saudara perempuannya anak-beranak yang sekaligus itulah pula kemenakannya. Dia mulai ikut mengatur, walau tanggung jawab sepenuhnya berada di tangan mamaknya yang lebih tinggi, yaitu penghulu kaum. Penghulu Seorang penghulu berkewajiban menjaga keutuhan kaum, mengatur pemakaian harta pusaka. Dia juga bertindak terhadap hal-hal yang berada di luar kaumnya untuk kepentingan kaumnya. Setiap laki-laki terhadap kaumnya selalu diajarkan; kalau tidak dapat menambah (maksudnya harta pusaka kaum), jangan mengurangi (maksudnya, menjual,menggadai atau menjadikan milik sendiri). Sumando Peran bujang Minang yang terakhir adalah sebagai Sumando, yaitu sebagai tamu di rumah istri saat sudah menikah. Sumando terbagi 4, Sumando ninik mamak Sumando kacang miangSumando lapik buruk, dan sumando langau hijua. Pembagian Sumando ini berdasarkan sifat dan perangainya ketika dia tinggal di rumah istrinya. Sumando yang paling diidamkan adalah sumando ninik mamak. (Muhammad Jamil, TL'15 UKM'15)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *