Terkikisnya Budaya Minangkabau: Persoalan Adaptif atau Minimnya Pelestarian?


Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya, dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. (Human Communication, red) Minangkabau merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia yang tersebar terutama di wilayah Sumatera Barat. Negeri ini sangat dikenal dengan budaya nya yang sangat kental yang diwariskan secara turun-menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebab budayalah yang menjadikan bumi minangkabau ini sangat mentereng namanya sampai saat ini. Dengan kata lain, eksistensi minangkabau akan sirna tanpa budaya.
Namun dewasa ini, Budaya Minangkabau seperti telah kehilangan eksistensinya. Jangankan di daerah lain, di daerah Sumatera Barat yang mayoritasnya bersuku Minang pun mulai melupakan budaya mereka sendiri. Mereka seolah-olah malu akan budaya yang telah diwariskan turun-temurun oleh nenek moyang terdahulu. Generasi muda acuh tak acuh terhadap sejarah Minangkabau, apa saja budaya yang terkandung didalamnya, bagaimanakah uniknya budaya Minang, dsb. Para generasi muda cenderung lebih peduli dan bangga dengan kebudayaan asing yang mulai bebas masuk kemana saja, termasuk di daerah Minangkabau. Hal tersebut menjadi faktor utama yang mempengaruhi moral, etika, gaya, pergaulan dan cara berperilaku generasi muda. Lantas apa sajakah Budaya Minangkabau yang mulai hilang seiring berkembangnya zaman saat ini? Mari kita telaah beberapa diantara Budaya Minangkabau yang mulai hilang tersebut.

1. Surau sebagai tempat belajar dan mengajar
Anak laki-laki Minang dahulunya menjadikan surau sebagai tempat diskusi, mencari dan menuntut ilmu. Disana mereka belajar diajarkan mengaji dan silat bahkan tak jarang mereka tidur pun di surau. Kebiasaan seperti ini sudah sangat jarang kita jumpai saat sekarang ini. Sebagian dari mamak dan pemuda lebih mudah kita jumpai duduk di lapau (kadai) untuk sekedar minum kopi, bercengkerama atau bahkan main domino.

2. Rumah Gadang sebagai tempat tinggal
Orang-orang terdahulu bergotong royong mendirikan rumah gadang untuk dijadikan tempat tinggal. Rumah gadang terdiri atas sembilan ruang dengan fungsi yang berbeda-beda. Ada yang digunakan sebagai tempat tidur pribadi, kamar untuk anak yang baru menikah dan ada pula yang digunakan sebagai tempat tidur tamu. Di halaman rumah Gadang terdapat beberapa rangkiang yaitu tempat untuk menyimpan beras. Rangkiang digunakan pada saat kondisi sedang krisis pangan atau ada sanak saudara yang membutuhkan beras untuk dimakan. Fungsi sosial dan ekonomi sangat jelas terlihat disini.
Namun, saat ini Rumah Gadang sudah beralih fungsi menjadi tempat pertemuan untuk menyelesaikan masalah, baik masalah antara anak dengan orangtua, antara suami dengan istri, mamak dengan kemenakan, dsb. Rumah Gadang tidak dijadikan sebagai tempat tinggal lagi. Orang Minang lebih memilih untuk membangun rumah baru dengan design menyerupai rumah orang Eropa. Di satu sisi sangat disayangkan kita tidak tinggal di rumah gadang lagi, tapi di lain sisi kita harus pindah dari rumah gadang karena bangunannya yang mulai rapuh. Fungsi rumah gadang tidak ada salahnya dialihkan sebagai tempat pertemuan dan diskusi untuk menyelesaikan suatu masalah, namun sejarah rumah gadang jangan sampai kita lupakan.

3. Talempong
Talempong adalah alat musik pukul khas Minangkabau. Talempong terbuat dari bahan kuningan, tapi ada juga yang terbuat dari kayu dan batu. Talempong ini berbentuk bundar dengan bagian berlobang dibawahnya sedangkan bagian atasnya terdapat bundaran yang menonjol berdiameter lima sentimeter sebagi tempat untuk dipukul. Talempong memiliki nada-nada yang berbeda. Bunyi dihasilkan dari sepasang kayu yang dipukulkan pada permukaannya. Talempong biasanya digunakan dalam pertunjukan atau penyambutan seperti tari piring, tari pasambahan, dan tari gelombang, pada saat iring-iringan marapulai-anak daro (talempong pacik).
Zaman sekarang pemuda-pemudi Minang lebih senang memainkan piano dibandigkan memainkan talempong. Padahal antara piano dan talempong memilki nada yang sama. Hanya cara memainkannnya saja yang berbeda, jika piano dipencet tutsnya, talempong dimainkan dengan memukul permukaannya. Yang lebih parahnya lagi bahkan ada pemuda Minang yang tidak mengetahui sama sekali apa itu talempong dan bagaimana bentuk talempong tersebut.

4. Randai
Randai merupakan salah satu permainan anak nagari di Minangkabau. Randai dimainkan oleh beberapa orang sekitar 6-10 orang. Dalam randai ada seorang pendendang yang akan membuka cerita dan memberi salam kepada penonton yang diiringi oleh seorang pemain saluang. Pada saat randai dimulai, para pemain terlebih dahulu memberi salam kepada penonton. Setelah itu mereka melingkar dan memulai gerakan-gerakan silat dengan nada hep-tah-tiah yang dipimpin oleh satu orang. Kemudian barulah kaba (cerita)dimainkan sampai selesai. Di zaman era globalisasi ini randai kalah bersaing dengan permainan anak modern, seperti band. Kebanyakan pemuda minang akan datang baramai-ramai menonton pertunjukan band, sebaliknya mereka enggan untuk menonton pertunjukan randai. Hal ini tentu saja akan membuat keberadaan randai berkurang karena untuk menontonnya saja banyak yang enggan, apalagi mengambil peran di dalamnya.

5. Baju Kuruang
Siapa sih yag tidak mengenal baju kuruang? Baju kuruang merupakan baju yang sering digunakan Gadih Minang dan merupakan baju khas pemudi Minang saat itu. Baju kuruang adalah baju yang longgar, tidak transparan, sopan, tertutup dari leher sampai mata kaki dan dilengkapi dengan tutup kepala (jilbab, selendang/kerudung) yang bentuknya beraneka ragam sesuai dengan daerahnya. Dikaitkan dengan zaman sekarang, jangankan generasi muda, perempuan yang sudah menikah pun kini telah jarang dijumpai memakai baju kuruang. Baju kuruang dinilai kuno, tidak fashionable,panas, dan berbagai alasan lainnya. Banyak kalangan yang menilai bahwa baju kuruang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Menurut saya pendapat ini tidak benar, buktinya dengan berpakaian muslimah kita tetap bisa merasa nyaman dan bebas beraktifitas. Bukankah baju kuruang hampir sama dengan baju muslimah? Inti dari baju kuruang adalah longgar, tidak transparan, sopan dan memakai kerudung. Hal ini sama dengan baju yang dipakai seorang muslimah dalam Islam karena budaya Minangkabau merupakan akulturasi budaya Islam. Pakaian ketat, transparan, tidak menggunakan jilbab bukanlah budaya orang Minangkabau. Budaya yang seperti itu merupakan budaya orang asing yang sangat bertentangan dengan budaya kita sendiri. Dari kelima budaya telah yang disebutkan di atas, kelimanya merupakan budaya-budaya yang sangat fundamental bagi masyarakat minangkabau. Apakah benar kelima budaya ini hilang ditelan zaman karena dinilai tidak adaptif dengan modernisasi zaman seperti saat sekarang ini? Atau problema utama nya adalah minimnya pelestarian budaya yang dilakukan oleh masyarakat minangkabau itu sendiri?

Budaya minangkabau memang sesuatu kebiasaan hidup masyarakat minangkabau yang diturunkan secara turun-temurun diwariskan sejak jutaan tahun lamanya. Dan memang kebanyakan orang berpendapat bahwa budaya ini berangsur hilang karena dinilai kuno jika dibandingkan dengan modernisasi pada saat sekarang ini. Namun jika saya menilainya dari perspektif diri saya pribadi, bahwa nilai yang terdapat dalam setiap budaya minangkabau tak akan lekang oleh waktu. Sebab budaya minangkabau berlandaskan dari “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”. Budaya minangkabau itu sendiri lahir dari alquran yang keaslian isinya terjamin hingga akhir zaman. Dari penjelasan di atas, penulis berkesimpulan bahwa hilangnya budaya minangkabau di atas, disebabkan oleh minimnya upaya pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat minangkabau sendiri. Modernisasi zaman bukan berarti harus meninggalkan budaya yang selama ini telah kita anggap baik. Tetapi, jadikanlah modernisasi sebagai kekuatan dan opportunity baru untuk melestarikan budaya minangkabau yang selama ini kita miliki.
Unit Kesenian Minangkabau Institut Teknologi Bandung (UKM-ITB) sebagai salah satu pionir pelestarian budaya minangkabau, harus mampu menanggung beban berat untuk melestarikan budaya tanah kelahiran mereka ditengah arus modernisasi yang berkembang sangat pesat ini. Melalui program kerjanya, UKM-ITB telah mampu memberikan bukti nyata kepada negeri minangkabau tercinta dalam melestarikan budaya minangkabau itu sendiri. Surau yang dahulunya dijadikan sebagai tempat diskusi, mencari dan menuntut ilmu agama. Sekarang di UKM-ITB, Sekretariat UKM-ITB lah yang dijadikan “surau” dan “Rumah gadang” bagi anggotanya dalam menuntut ilmu melalui program kerja Suluah Bendang, diantaranya : maghrib mengaji, ta’lim, forum gadih, rangkiang akhirat, dan sebagainya. Talempong dan randai pun masih bisa dilestarikan oleh UKM-ITB.(Novrisal Prasetya, UKM'15 TM'14)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *